Ingin kembali (lagi) ke Kanekes

Jauh dari kata mewah, jangkauan teknologi, pengaruh luar daerah dan apa lagi ya? Yang pasti berbanding terbalik dengan kehidupan Jakarta, kota yang tengah ku tumpangi sekarang. Tempat  hidup, mencari nafkah dan bergaul dengan banyak manusia lainnya.

Jika aku keluar pagi hari, jam 8 saja itu sudah macet. Lebih pagi lagi? Sudah banyak yang berkeliaran. Mungkin mereka yang memang akan berangkat bekerja atau pulang dari mencari nafkah. Iya, seperti itulah potret Jakarta.

Pagi disini justru sepi, sunyi dan tenang. Ternyata di jam 8 pagi ini pun mereka tidak tidur. Namun sudah melangkah mencari nafkah. Ah jadi lupa, saat ini saya sedang berada di kaki pengunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten. Sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung.

Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 mdpl tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20 °C. Ah makin ngawur. Yang penting mereka mencari nafkah dari bertani.

Ini adalah pemukinan Urang Baduy, salah salah. Mereka lebih senang disebut Urang Kanekes. Kelompok masyarakat adat sub-etnis sunda. Kelompok ini menutup diri dari pengaruh dunia luar. Seperti pengaruh teknologi ataupun gaya hidup.Memiliki populasi hingga 8000 orang saat ini, mereka terbagi dalam dua wilayah, baduy dalam dan baduy luar. Kedua wilayah memiliki perbedaan dari aturannya. Menurut saya sih, mengagumkan. Bertahan dengan aturan yang mereka miliki dibalik banyaknya pengaruh luar. Mereka seperti tak ingin berpenampilan glamour, punya tas ber-merk, make up berlebihan atau tampilan apalah yang ada disekitar kita saat ini.

Mereka juga seperti tak ingin untuk tau seperti apa lagu hiphop, terlihat keren dengan lagu berbahasa inggris atau terlihat menarik dengan gaya kebarat-baratan yang ada. Mereka nyaman dengan menggunakan bahasa sunda, namuuun mereka tetap lancar lho berbahasa indonesia dengan kita yang berasal dari luar lingkungan mereka.

Awalnya saya sempat ngomel dalam hati (ga berani terang-terangan ya) dengan aturan mereka yang menurut saya membuat mereka tak berkembang. Bagaimana tidak? Orang kanekes tidak diperboleh kan menempuh sekolah, pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Hmm ini membuat saya penasaran lebih jauh tentang adat ini, tapi waktu nya belum tepat sepertinya. Tapi ya aturan ini membuat urang kanekes tidak mengenal budaya tulis. Alhasil adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja. Ini lebih ke urang baduy dalam, yang sangat sangat tertutup. Berbeda dengan baduy luar ya, mereka belajar mengenal tulis menulis, mengenal dunia luar seperlunya meski tak menempuh sekolah formal.

Yang sama diantara mereka tetaplah kepercayaan, mereka mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai ajaran Sunda Wiwitan,  ajaran leluhur turun temurun yang berakar pada penghormatan kepada arwah leluhur dan pemujaan kepada roh kekuatan alam. Bentuk penghormatan kepada roh kekuatan alam ini diwujudkan melalui sikap menjaga dan melestarikan alam; yaitu merawat alam sekitar (gunung, bukit, lembah, hutan, kebun, mata air, sungai, dan segala ekosistem di dalamnya), serta memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada alam, dengan cara merawat dan menjaga hutan larangan sebagai bagian dalam upaya menjaga keseimbangan alam semesta. Walaupun ini nyatanya adalah turun temurun, namun dalam perkembangannya tetap dipengaruhi oleh ajaran Hindu, Budha dan bahkan Islam.

Contohnya saja dalam peribadatan, mereka juga berpuasa tetapi tidak selama satu bulan dalam setahun. Akan tetapi, 3 bulan dalam setahun setiap tanggal 17. Pada saat itu, mereka wajib untuk berbuka bersama dengan pimpinan mereka. Urang baduy luar diwajibkan untuk datang ke area baduy dalam untuk bersantap bersama lalu kembali ke rumah masing-masing. Ya karena jika menginap mereka akan melanggar aturan. Selama bulan puasanya, urang baduy tidak diperboleh kan ada hubungan antara urang baduy dengan orang luar kanekes.

Nah jika berbicara tentang objek apa yang mereka percayai, maka jawabannya adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima dan hanya Pu’un atau ketua adat tertinggi beserta beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut.

Kalau untuk lebih mengenal seperti apa mereka saya bingung akan menuliskan nya, akan lebih panjang lagi. Bisa saja nanti menyamai telenovela. Cukup tau, mereka seperti punya dunia sendiri. Mereka hidup dengan cara yang berbeda, mempunyai kegiatan berbeda dengan orang kebanyakan, tujuan hidup yang berbeda,  selera seni yang berbeda. Mereka punya musik sendiri, tari sendiri dan kebahagian sendiri. Laaah laaah saya seperti curhat yaa, iyaa. Kebahagian mereka sepertinya memang sederhana dan itu luar biasa.

Ini sedikit cerita tentang Urang Kanekes ya atau lebih kita kenal Urang Baduy. Masih ingin cerita banyaaaaak tapi nanti saya malah tak punya teman untuk kembali. Haha

Yuuuk berkunjung (lagi) ke Suku Baduy,

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: