Minimalisir Resiko Pendakian Gunung Bersama RS Firdaus. Yuk berbagi tips !!!


Resiko dari pendakian gunung pada setiap pendaki tentu berbeda-beda. Bisa saja itu tergolong ringan dan bisa saja tergolong berat. Tergantung jam terbang pendaki atau bisa jadi persiapan. Untuk persiapan bisa saja persiapan fisik yang utama, mental dan selanjutnya yang tak kalah penting adalah mempersiapkan pemahaman tentang aktifikas pendakian.

Saya yang masih berniat mencoba akifitas mendaki saja merasa tertarik untuk datang ke acara yang RS Firdaus yang di gelar bersama dengan Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta kali ini. Mereka memang berjodoh alias tidak bisa dipisahkan. Satu bergerak di bidang medis dan satunya berisi orang-orang yang suka jalan kemana pun mereka suka termasuk ke gunung. Tidak akan sama hal nya dengan aku dan kamu ya, kamu ke kanan dan aku ke kiri. Entah dimana akan bertemu. Ihaaaaa

Oke, STOP TJURHAATNYAAAA!!!!!

“Mitos dan Fakta Pendakian Gunung” jadi tema untuk dijadikan diskusi. Diadakan di Casapatsong’s Kitchen Café, Cikini Jakarta Pusat diskusi ini mengundang pembicara-pembicara yang ahli di bidangnya seperti Dr Ridho Adriansyah dari RS Firdaus,  Tyo Survival (eks host Jejak Petualang & co host Berburu Trans 7), Harley B. Sasta (pegiat alam dan konservasi dari E-Magazine Mountmag), Edi M Yamin (founder Backpacker Jakarta) dan Siti Maryam yang berhasil survival selama 4 hari 3 malam di Rinjani beberapa Waktu lalu.

Nah di kesempatan ini saya malah fokus pada apa saja hal yang perlu kita perhatikan untuk dapat meminimalisir resiko yang ada saat pendakian. Bukan berarti tidak tertarik pada pembicara lainnya yang sudah berpengalaman namun hanya karena saat ini yang terfikir adalah resiko juga dapat diminimalisir lewat persiapan si pendaki.

Mitos bagi saya hanyalah beberapa aturan yang mewajibkan kita untuk menghargai lokasi tersebut sepaket dengan penghuninya. Ini mungkin karena ajaran budaya yang telah mendarah daging. dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang, pepatah ini mengajarkan kemana pun saya pergi saya harus bisa menghargai aturan apa yang ditanam dan berlaku di tempat tersebut.

Lalu apa saja sebenarnya yang harus disiapkan untuk meminimalisir resiko pendakian gunung ?

Minggu, 20 Agustus 2017 ini saya dapat mengutip beberapa tips dari Dr. Ridho Adriansyah yang merupakan dokter praktek di RS Firdaus ini. Berikut tips nya :

  • Pastikan kondisi fisik dan mental dalam keadaan sehat. (tidak lagi jatuh cinta, patah hati, atau sebagainya)
  • Persiapkan penghangat tubuh seperti jaket, celana gunung, makanan, air serta obat-obatan dan juga perlengkapan mendaki lainnya. (jangan menyiapkan kenangan, karena ini akan lebih berat)
  • Pastikan membawa pakaian ganti yang cukup untuk selama perjalanan saja. (Jangan bawa minidress ataupun gaun malam. ini pendakian gunung, bukan pelaminan)
  • Olahraga rutin sebelum mendaki gunung. Setidaknya lari dari kenyataan sedikit melatih saya.
  • Patuhi peraturan yang berlaku. (Ini Penting!!)
  • Pastikan selalu berdoa, dan niatkan bahwa kegiatan yang dilakukan semata untuk menikmati keindahan yang tuhan ciptakan.
  • Jangan memaksakan kehendak, jujur, jika tidak kuat saat mendaki bilang, jangan malu.

Kemudian berikut ada beberapa masalah yang sering timbul dan butuh perhatian lebih, diantaranya :

a. Acute Mountain Sickness (AMS)

Terjadi pada ketinggian 3500 MDPL saat oksigen semakin menipis. Secara otomatis dalam waktu 4 jam hingga 1 hari tubuh kita akan terus beradaptasi dengan cara bernafas lebih cepat dan jarang kencing, jika kita terkena AMS maka akan timbul gejalanya, sakit kepala, lemas, lelah, kaki dan tangan bengkak maka itu sudah terkena AMS, solusinya minum paracetamol dan istirahat selama 15 menit, jiak ingin melanjutkan perjalan maka jangan terlalu cepat.

b. High Altitude Cereberal Edema (HACE)

Ini lanjutan dari kasus yang pertama jika dipaksakan, gejalanya lebih berat, otak nya membengkak karena terisi cairan yang kemudian hilang kesadaran.

c. High Altitude Pulmonary Edema (HAPE)

Dan Ini yang paling parah karena paru-paru kita akan langsung terisi cairan karena efek dari HAPE, biasanya terjadi 2-4 hari kemudian setelah terkena AMS/HACE. Bisa mati mendadak!

Namun ketiga masalah ini akan kecil kemungkinan ada di Indonesia, ajdi kita bisa sedikit lega tapi tetap berhati-hati yaa. Keamanan dan kesehatan kita itu hanya kita dan tuhan yang tau. Sama kaya JODOH.

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: