Backpack singkat di Kota Gagal Move On, Katanya. Ini ceritaku

Selalu ingin kembali, katanya jika berbicara tentang Yogyakarta. Right?

Akan aku benarkan juga jika aku merasakan hal yang sama.

Ini akan menjadi pengalamanku backpacker singkat di kota gagal move on, meski ya setidaknya itu yang selalu aku dengar dari teman-temanku.

Malam itu aku berangkat menaiki kereta api Progo yang hampir selalu punya jadwal paling malam setauku. Cocok lah ya dengan jadwal para pekerja kantoran yang kerja di office hour. Meski tidak untuk jadwalku, aku berhasil kabur sebelum waktu berangkatku tiba, 22.20 wib. Sssst, jangan bilang siapa-siapa ya. Apalagi sama produserku, hehe.

Buru-buru memasuki peron stasiun aku tak ingat lagi ini tepatnya pukul berapa, yang pasti 22.15 wib aku sudah menempati kursiku dengan memasang muka manis. Kali aja kan, jodoh ada di hadapan mata, tapi engga sih di depanku ada pasangan suami istri yang lagi mesra-mesranya. Akan aku abaikan dan segera ambil posisi paling enak lalu mengistirahatkan badan. Perjalananku akan cukup panjang, dijadwalkan akan sampai pukul 06.30 pagi di kota tujuan.

Sampai di kota itu, aku sudah ditunggu sama sepasang kekasih terbaik dalam hidupku. Tapi, makasih banget lho  buat kakak dan abang ini sudah mau aku repotkan di jadwal liburan mereka. haha

Hari pertama aku belum bisa jalan, janji ku dengan beberapa teman yang akan menemani perjalanan tetiba batal. Aku yang bingung harus bagaimana lalu kemudian malah tidur di hotel sampai malam. Kecapekan sih ngakunya meski tidur selama di kereta. Tapi kan nyesek liat pasangan di depan aku, jadi capek hati kan. Jujur lho ini. Nyatanya justru aku tak punya teman untuk menghabiskan waktu siang sementara liburan kakak dan abangku masih harus terus berlangsung hingga nanti ia kembali.

Tidurku sangat nyenyak, perut laparlah yang menarik aku dan si kakak keluar. Tentunya setelah melepas kepergian si abang kembali ke Jakarta. Iya, yang tersisa adalah liburan kita berdua. Rintik hujan menemani pencarian kami, bertolak dari hotel yang kami tempati yang terletak di seberang mall malioboro dan kami pun menyusuri malam.

Yang cocok dengan cuaca dingin dan memang kebetulan kami si penyuka makanan pedas, Oseng Mercon jadi menu buruan malam ini. Sambil megang google maps, aku malah sok tau bilang kalau kita bisa menemukan makanan ini beberapa meter dari sini. Sambil berjalan aku pun sibuk mengikuti jalan dan si kakak sibuk ngoceh memperkenalkan apa yang ia lihat. Aku bisa tau kalau itu adalah Ramayana Malioboro, aku bisa tau itu adalah Benteng Vredeburg meski aku ga bisa liat guys malam begini. Tapi iya aja, biar kakak aku ini seneng ya. Nah aku juga tau kalo ada pasar beringharjo dan ada Titik Nol Kilometer juga di Jogja. List perjalanan yang akan aku kunjungi keesokan paginya pun nambah dalam notes handphoneku hingga kemudian datang waktunya untuk memesanan makanan malam ini.

Waktunya bersantap,

Kami memang sudah sampai di sebuah warung kecil di Jl Ahmad Dahlan, memesan seporsi oseng mercon daging untukku dan oseng mercon ayam untuk kakak. Sembari menunggu kita malah nyemil tahu bakso yang ternyata dihidangkan untuk camilan disini. Tak lupa juga segelas es teh manis menemaniku di malam dingin ini.

Aku pun bercerita tentang rencana esok hari, aku bercerita bahwa temanku pun belum bisa dihubungi hingga pukul 22.00 malam ini. Kabar bahagianya adalah kakak pun berjanji akan menemani hari esokku di kota ini. Kalau saja kamu jadi aku, kamu akan berbahagia tidak?

Ya berbahagialah tapi mari bersantap dulu yuk. Pesanan sudah datang dan kamu pasti penasarankan seperti apa rasanya makanan yang katanya jadi favorit kuliner malam di Yogakarta.

Oseng mercon yang dihidangkan berisi beberapa potongan potongan daging dengan cabe rawit yang menurut pengamatan aku sih ya itu udah banyak banget. Aku bahkan engga bisa bedakan lagi, mana yang daging dengan mana yang rawit. Hahaha tapi ini lebay guys, jadi aku itu bisa membedakan namun jumlahnya hampir sama. Bingung ga tuh harus makan apa? Nah untungnya, aku itu penyuka pedas jadi oseng mercon nya ludes seketika. Perut yang kenyang ini akhirnya kita seret menuju hotel.

Rencana yang hampir benar-benar kacau akhirnya kembali terangkai. Waktu menunjukkan pukul 23.00 Wib aku menerima pesan singkat dari dia yang membuat aku tak kemana mana di hari pertama liburanku di Jogja. Sudah lenyeh-lenyeh di kasur yang super empuk yang tidak benar-benar ku inginkan nyatanya. Aku masih ingin mengitari kota ini, bahkan saat cuaca tidak bersahabat. Hujan masih saja turun membasahi rerumpputan dan aspal jalanan Kota Jogja. Aku pasrah dan mengrangkai rencana dengannya.

Suatu hari, cerita ini akan kamu sukai. Meski ini masih menjadi hanya bagian pemula untuk ceritaku selanjutnya ya.

Untuk perjalanan selanjutnya, kamu bisa baca disini

Sampai Jumpa,

 

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: