Buffalo Boys, Film Sejarah Masa Kini

 

Buffalo Boys, kisah cerita sejarah masa kini menghadirkan nuansa cerita baru untuk perfilman indonesia. Cerita berlatar sejarah yang dimodifikasi sehingga menarik untuk ditonton berbagai kalangan. Sederhananya tujuan pasar yang diinginkan pada saat ini tentu para generasi muda ya? Yang menilai sesuatu yang berbau sejarah itu sulit untuk dicerna. Disamping mereka harus tau bahwa banyak cerita sejarah yang harus kita tau, agar kita bisa berterimakasih akan adanya hari ini, akan hidup yang tentram dan damai. Agar kita besyukur, kita hidup di zaman yang sudah bebas dari jajahan secara fisik. Jajahan di nusantara nyatanya belumlah sepenuhnya hilang kan? Kamu bisa ingat-ingat sendiri maksudnya, tapi aku tidak akan membahas lebih lanjut. Ini cerita santaiku, bukan untuk kamu seriusi hingga ke orangtuaku. Jadi mari kita berkenalan dulu…

Sekilas tentang Produksi Buffalo Boys…

Buffalo Boys adalah film campuran antar genre fiksi dan sejarah. Hasilnya jadi film indo yang apik dan menarik untuk ditonton. Pemeran yang diambil juga aktor dan aktris yang lucu, ada juga beberapa aktor blasteran yang menurut aku sih masih cocok untuk muka indo. Seneng liatnya, ada kinyis kinyis bulenya gitu. Haha

Jadi ada cerita sejarah dengan custom rata-rata ala koboy, disutradarai oleh Mike Wiluan seorang Chief Executive Infinite Frameworks berkenegaraan indonesia dan Singapura (maaf ya kalau aku salah tapi seinget aku begitu). Beliau sudah banyak menyutradarai film-film kece indonesia dan ini salah satu yang menjadi ambisi tersediri baginya. Tampilan berbeda di film ini harusnya berhasil menarik minat penonton tanpa memilih usia. Cmiww

Hasil produksi dari Infinite Studio bekerjasama dengan Zhao Weil Film dan juga Screenplay Infinite Films, mengusung aktor indonesia dengan (bukan) ribuan penggemar (alay) seperti Ario Bayu yang berperan sebagai Jamar, Yoshi Sudarso berperan sebagai Suwo sekaligus adik Jamar, Tio Pakusadewo oleh Arana sebagai paman dari Jamar dan Suwo. Dony Alamsyah juga muncul sekejap sebagai arana muda. (Di scene ini aku ingin lebih lama sebenarnya, aku selalu ingin waktu terhenti saat melihat Donny Alamsyah, aku harus gimana guys? Bukan aku sutradaranya kan?

Kalangan aktris diramaikan oleh Pevita Pearce sebagai Kiona dan Mikha Tambayong sebagai Sri, adik dari Kiona. Masih banyak pemeran lain, seperti Happy Salma, Zack Lee dan juga Reinout Bussemaker yang berperan sebagai Van Trach (yang paling aku benci guys, mungkin karena ia terlalu mendalami peran yaa? Atau mungkin karena dia ketua genk dari para penjajah ini? Atau akunya yang kebaperan. But whatever, tanpa dia film ini juga belum tentu kece ya kan?)

Spoiler Buffalo Boys Banget….

Masa itu, tahun 1860 kolonial belanda berusaha memaksakan negosiasi damai dengan sultan terakhir yang dianggap mereka sebagai sultan pemberontak. Ya jelas, negosiasi damai yang dimaksud bukan sama-sama menguntungkan, tetapi ya layaknya sebuah penjajahan. Rakyat akan bekerja bersama para kolonial. Sultan terakhir udah pasti ga mau dong buat perdamaian semacam itu, semua yang menolak untuk berdamai dihabisi para kolonial satu persatu. Hingga yang tersisa hanya Sultan Hamza dan Arana, adiknya. Mereka berusaha kabur karena membawa dua anak dari Sultan Hamza: Jamar dan Suwo. Namun di perjalanan mereka terkepung, Sultan Hamza dan Arana masih berusaha lari hingga di sebuah tepian danau. Sultan Hamza memaksakan arana untuk kabur membawa Jamar dan Suwo. Sultan Hamza ga mau, kalau Jamar dan Suwo juga ikut dihabisi mereka. Sementara disisi lain ia masih memikirkan keselamatan rakyat nya yang tersisa. Ia masih ingin kembali menemui para penjajah demi rakyat. Gila ga sih? Mana ada pemimpin jaman sekarang yang begitu? Ya kaaaan? Jujur deh, biar aku ada temen julidnyaaaaa. Haha

Namun nasib orang baik di film itu beneran sama dengan di kenyataan guys. Ga bakal selamaaat. Sultan Hamza mati di tangan Van Trach. Ini menyisakan dendam di dada adiknya, Arana.

22 tahun kemudian,

Arana yang kembali ke tanah jawa. Setelah melarikan diri dan membesarkan kedua anak kakaknya, ia pulang dengan dendam. Ia datang dengan kondisi jawa masih dijajah oleh si kolonial Van Trach. Kekuasaan atau kursi gubernur di kota tersebut diisi oleh Van Trach. Tapi disini agak kocak deh. Aku suka mikir dua kali, kenapa setelah kembali, Arana tau dimana Sultan Hamza beserta istri dimakamkan ya? Arana juga tau dimana makam istrinya yang di kelanjutan ceritanya, istrinya belum meninggal tetapi di peristri oleh Van Trach. Mungkinkah ada scene yang aku lewatkan? Oke ini peer kamu ya, nanti bagi-bagi ceritanya.

***

Film berlanjut dengan perjalanan Arana, Jamar dan Suwo. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Mikha Tambayong yang memerankan Sri, adik dari Kiona yang merupakan adik kepala desa yang ada di kota tersebut. Disini ada scene jatuh cinta, ala anak muda djaman now, mengundang galak tawa penonton. Suwo jatuh cinta pada kecantikan Kiona, ya yang memang cantik yaa. Semakin menarik dengan aksinya yang pintar memanah dan menunggangi kerbau. Meski lihai, ia disini mempertontonkan peran yang tak begitu bebas menjadi seorang wanita. Kata hebat tetaplah hanya untuk laki-laki. Padahal, jika di bawa ke medan pertempuran ia masih bisa dibilang potensial untuk mengimbangi aksi laga.

Ya, bertema aksi balas dendam tentulah film ini 60% adalah aksi laga, ledakan, baku tembak bahkan pertarungan antar Jamar dan Suwo yang mencekam dan membuat film ini membuat penonton gregetan.

Nilai plusnya benar disini, aku luluh dengan akting Jamar dan Suwo. Pertengkaran tidak membuat mereka bermusuhan, ada pesan yang sangat aku suka disini. Suwo si adik tidak punya gengsi untuk tetap menghampiri si kakak saat mereka berada dalam perang dingin. Mereka sadar betul pesan paman mereka sebelum meninggalkan mereka. Hal yang akan menguatkan adalah rasa persaudaraan mereka.

Tidak untuk membalas dendam, saat itu Suwo mengajak kakaknya justru membunuh Van Trach demi rakyat. Mereka bersiap dengan bermodal kendaraan, dua ekor kerbau yang siap untuk ditunggangi. Kuda mereka entah kemana aku lupa.

Selanjutnya kamu bisa bayangkan?

Aksi laga yang sangat epic cuy.

Aku pada dasarnya tidak terlalu suka melihat aksi bunuh-bunuhan, baku hantam atau aksi kekerasan lainnya. Anaknya emang lembek banget udah. Nilai jual film ini justru disini menurutku. Film indonesia sudah siap bersaing dengan film produksi internasional. Aksi yang mereka hadirkan tidak kalah bagus, alur cerita juga tidak kalah menarik. Film ini memang juga dipersiapkan untuk tayang pada fantasia film internasional festival 2018. Alhasil ada dua bahasa yang digunakan, bahasa inggris dan bahasa indonesia. Sedikit aneh kalo warganet bilang, tapi aku suka.

Masih banyak lagi sih detail cerita yang lebih bisa bikin nyess. Overall, untukku film ini berkesan. Untukmu?

Share di komentar ya, mari kita cerita bareng.

 

 

Baca juga : Marlina, (bukan) pembunuh dalam empat babak

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: