Dampak Perhutanan Sosial dalam Perspektif Ekonomi, Sosial dan Lingkungan

Buku Dampak Perhutanan Sosial dalam perspektif ekonomi, sosial, dan lingkungan adalah hasil kerja keras dari Prof. Mudrajad Kuncoro, SE, M.Soc, Sc, Ph. D dan tim. Beliau salah satu penulis dan Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM yang saat ini ada di hadapan kami semua.

Aku sedang berada di acara Ngobrolin Hutan, program inisiasi dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Forest Digest. Tau Forest Digest? Kalo belum tau, Klik disini

Ini sebenarnya bukan acara pertama mereka, Cuma aku saja yang merasa spesial bisa ikut mendengar pada acara bedah buku si bapak mudrajat kuncoro ini. Orang nya kocak, bisa membuang kantukku siang hari begini. Wajar saja aku kembali ikut menyimak dengan seksama. Ikut dihadirkan pada hari ini adalah Anggota Pokja Perhutanan Sosial dan Paguyuban Tani Sunda Hejo.

Bukan lautan hanya kolam susu, Kail dan jalan cukup menghidupimu.
Tiada badai tiada topan kau temui, Ikan dan udang menghampiri dirimu
 
Orang bilang tanah kita tanah surge, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surge, Tongkah kayu dan batu jadi tanaman

Aku sudah membayangkan diskusi ini akan lebih menarik. Mengingat perhutanan sosial ini pengelolaannya sejatinya pada masyarakat yang sudah jelas aka nada pro dan kontranya. Jika tidak tentang baik atau tidak pengelolaannya, mungkin tentang siapa yang lebih berhak dalam mengelola. Atau siapa yang pantas menerima hasil dari perhutanan sosial. Meskipun hutan, bukan berarti tidak ada hasilnya kan? Sesuailah dengan lagunya Koes Plus.

Udahan ya nyanyinya, yuk kita lanjut bahas isi dari buku ini.

Jadi, Apakah Dampak dari Perhutanan Sosial?

Dampak Perhutanan Sosial Secara Ekonomis,

Pada buku ini dijelaskan bahwa, Program Perhutanan sosial ini memiliki dampak yang baik bagi perekonomian masyarakat terutama setelah mereka menerima Surat Keputusan. Hak pengelolaan memberikan nilai tambah bagi asset tanah dan asset batang pohon perkebunan.

Selanjutnya menuju proses produksi kemudian menambah pendapatan dengan menanam tanaman komoditas atau memanfaatkan lahan hutan untuk pariwisata. Kemudian berkembang, dan menyerap tenaga kerja semakin banyak. Jika pada pagayuban tani lahan-lahan mereka hanya biasanya menjadi sumber penghasilan sampingan mereka akhirnya kini bisa menjadi sumber penghasilan utama mereka.

Dampak yang lebih membahagiakan dengan adanya pengelolaan hutan sosial ini adalah mengurangi arus urbanisasi. Masyarakat tidak berebut untuk pergi dari daerahnya untuk mencari pekerjaan, karena nyatanya ada pekerjaan yang bisa mereka lakukan di tanah kelahiran.

Pemerintah yang berwenang sejauh ini sudah memfasilitasi pengelolaan perhutanan sosial di masyarakat, hanya saja masih membutuhkan usaha lebih dengan lebih mengkontrol pengimplemetasiannya. Karena proses yang sebenarnya dari pusat ke daerah belum tentu semulus yang difikirkan ya kan.

Menurut riset, baru 45% pengaruh dari pemerintah yang berwenang pada pengelolan perhutanan sosial, namun sudah menjauhkan para petani dari kata kemiskinan. Bayangkan coba jika kontrol dari pemerintahan meningkat. Kita mungkin bisa bilang bahwa petani indonesia bisa memiliki pendapatan lebih dan menjadi kalangan menengah ke atas. Setuju ga?


Dampak Perhutanan Sosial Secara Sosial,

Sebelumnya aku mau cerita dulu, sekitar dua tahun lalu aku pernah datang ke salah satu tempat wisata. Dahulunya dapat kita perkirakan bahwa lokasi ini adalah sebuah hutan sosial yang berada di bawah pengelolan masyarakat. Saat aku tengah duduk dan menikmati keindahan lokasi ciptaan tuhan yang paling seksi versi aku, suasana alam dengan aroma segar di atas perbukitan, tiba-tiba ada sedikit terganggu dengan sapaan seorang ‘atuk”. Ah iya, aku tidak tau sebutan bapak tua disini, yang jelas kita akan bercerita.

Mulai menanyai asalku, kemudian dengan menanyakan dalam rangka apakah aku datang mengunjungi lokasi ini. Aku memang dalam ikatan kerja pada sebuah stasiun televisi nasional dan terang saja atuk menaruh harap agar suaranya didengar.

Keluh kesahnya, akan pengalihan pengelolaan yang membuat beberapa diantara mereka yang dulunya mencari nafkah pada wisata ini, saat ini tidak punya penghasilan. Aku saat itu hanya menjadi pendengar dan sambil berusaha mencari jawaban yang tepat agar tidak membuat kecewa. Eh ga bosen kan denger ceritanya?

Namun kini terjawab sudah, penelitian pada buku ini pun menemukan fakta bahwa nyatanya kondisi ini sebenarnya hanya dampak dari kurangnya akuntabilitas atau komunikasi antara pengurus yang bergerak pada pemerintah yang berwenang dengan anggota kelompok tani alias penduduk setempat sejak pengelolaan hutan sosial berada di bawah pengelolaan pemerintahan. Padahal, ini sebenarnya justru mengurangi banyaknya konflik yang ada.

Lain daripada ini, dampak sosial tidak terlepas dari unsur alam seperti faktor cuaca dan sinyal alam lainnya.


Dampak Perhutanan Sosial Secara Lingkungan,

Hubungan yang baik antara pengurus dan kelompok tani akan berdampak baik pada kelangsungan hutan sosial. Pengelolaan oleh masyarakat akan menumbuhkan rasa memiliki di diri masyarakat namun tidak mengurangi rasa tanggung jawab pada pengurus. Hal ini membuat lingkungan hutan sosial akan terjaga dengan baik.

Jika dulu eksploitasi dari masyarakat jadi masalah, saat ini tidak akan terjadi, karena tidak ada masyarakat yang akan berani mengambil hasil hutan asal-asalan.

Kesimpulan yang bisa diambil pada buku ini adalah pengelolaan hutan sosial dari pemerintah yang berwenang sudah terlaksana meski belum maksimal. Namun usaha ini masih dapat dilanjutkan dengan usaha dan diselesaikan bersama.

Kira-kira kamu akan bantu dengan cara apa?


2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!